Salah Beli Benang

Saat pertama kali belajar merenda, saya 'serakah' dan membeli banyak benang yang 'murah-meriah'. Dengan alasan sedang belajar untuk apa membeli benang yang mahal? Masalah mahal murah itu memang dilihat dari harga benang tersebut. Namun juga produksi benang menentukan kualitas benangnya. Semakin lama saya merajut, jujur saya semakin lebih menyukai benang mahal dengan kualitas impor (ya, eiyalah!). Benang sangat bagus dan rapi, pilihan warna juga cantik serta menentramkan jiwa. Hehehe,..

Dulu banget saya salah membeli benang. Lupa nama benangnya apa, tetapi yang jelas benang tersebut teksurnya tebal tipis dan warnanya hitam putih bladus. Membeli langsung sebanyak empat gulung seolah menjadikan kesalahan fatal yang tak termaafkan. Dibuat selendang sepertinya aneh. Dibuat taplak meja, lebih aneh lagi. Selama beberapa waktu benang tersebut teronggok dengan manis di keranjang benang saya. Namun akhir-akhir ini, tatkala semangat 45 tampil membara, saya putuskan untuk menaikkan derajad benang tersebut menjadi benda yang berguna.

Pikir punya pikir dan usut punya usut, saya mendapat gagasan untuk merubah empat gulung benang menjadi... dudukan kursi. Iya, bukan bantalan kursi, tetapi dudukan kursi. Seperti apa sih dudukan kursi? Alas sederhana untuk duduk di kursi atau bahkan lesehan di lantai. Proses awalnya dengan tusuk rantai, panjang suka-suka kemudian dibuat single crochet bolak-balik selama beberapa baris. Pada bagian yang menggelembung kita tarik keluar dari jajaran single crochet. Tentu saja tanpa hitungan! Karena pengerjaan dudukan kursi ini adalah proyek re-cycle. Daripada beli benang kemudian numpuk tanpa guna. Kita cari gagasan bagi pemanfaatannya. Bukankah lebih baik demikian? Yuk, mari merenda! JW

Comments